Ilmu Kelas Langit

Dalam perjalanan kali ini saya mendapatkan pelajaran yang sangat luar biasa dari dua insan Tuhan yang secara usia dan “penampakan” sudah sepuh, tetapi dari sisi energinya seperti baru beranjak remaja.

Saya tidak menyangka bahwa mereka yang duduk bersebelahan persis di samping saya adalah mantan suami istri. Ya.. mereka pernah bersatu dalam  bahtera rumah tangga dengan hasil 7 anak dan 17 cucu. Tapi dengan seijin Allah  mereka  menjalani sisa hidup dengan jalan yang berbeda. Mereka memutuskan berpisah beberapa tahun silam.

Dan yang lebih luar biasanya lagi mereka begitu akrab, santai, tanpa beban duduk bersanding. Bahkan mereka bercerita bahwa selama menjalankan ibadah umroh mereka bertiga dalam satu kamar dengan suami baru si ibu. Sementara istri baru si Bapak tidak ikut umroh.

“Lha, kok bisa begitu, Pak?” saya masih ga habis pikir melihat mereka ini.

“Lho ya apa yang aneh sih. Mas? Bukannya hidup kita ini pada titik-titik tertentu akan memiliki kesamaan satu dengan yang lain. Mengapa harus heran dengan sesuatu yang terjadi.” Wadoow.. ilmu kelas langit ini mah.

“Maksute piye, Pak?”

“Pada titik-titik tertentu kita pasti akan mengalami hal yang sama. Misalnya, sampeyan berkarir di suatu perusahaan. Kadang yang menduduki posisi strategis belum tentu yang berpendidikan tinggi. Bisa jadi yang sekolahnya sampai ber-SS malah hanya sekedar staf biasa saja. Maknanya, pendidikan tinggi atau tidak pada suatu titik sama aja.” Bener juga sih.

“Lalu, pada usia kepala lima misalnya, ganteng dan cantik itu tidak ada bedanya dengan mereka yang berparas standar. Lha, sama-sama berkerut. Sama-sama mulai beruban. Sama-sama mulai pelupa. Sama-sama ngantongi minyak angin.” Saya cuma mesem-mesem membenarkan ucapan beliau.

“Tapi kan ga selamanya semua sama, Pak.” Bantah saya.

“Lha, iya tho, Mas. Kalo semua sama hidup ini jadi wagu dong.” Beliau paham saya godain.

“Pada usia pensiun antara mantan pejabat tinggi dengan mantan OB misalnya,  sama-sama tidak perlu stress dan kuatir lagi dimarahin Bos. Mungkin juga kita sama-sama mengalami post power syndrome. Sama-sama merasa kesepian. Apa bedanya, hayo?” Lanjut beliau sambil nyengir.

“Lantas, di periode umur 70-90 misalnya. Apa bedanya antara rumah gedong magrong-magrong dengan RSSSSSSSSS (rumah sangat sederhana suk2an sanget soyo suwi soyo sumpek). Lha, wong untuk berjalan aja kita perlu tongkat. Ga bisa keliling muteri rumah, apalagi naik tangga. Apa bedanya uang milyaran dengan recehan, wong tubuh kita sudah harus dibatasi makanannya. Yang kita butuhkan benar-benar sangat terbatas. Sama-sama tidak perlu yang mewah dan berlebihan.” Iya sih..

“Dan yang terakhir. Ketika ajal menjemput kan ga ada beda antara kaya-miskin, pejabat-rakyat, karyawan-pengusaha, tua-muda, pria-wanita. Semua akan kembali ke tanah tanpa membawa secuilpun apa yang kita pamerkan selama ini. Keluarga, sahabat, orang dekat akan menangisi kita hanya sesaat. Dan mereka akan terbenam lagi dengan kesibukannya masing-masing.” Ngeluu..

“Apakah ini berarti bahwa kita tidak perlu berusaha, Pak?” Pancingan yang sudah bisa ditebak jawabannya.

“Yo, ndak gitu juga, Mas. Artinya, semasa hidup jangan terlalu merasa paling hebat, paling kaya, paling tinggi  atas apa yang kita miliki apapun bentuknya, karena pada akhirnya akan sama aja. Mari kita pergunakan seluruh potensi kita untuk membantu orang lain. Mudahkan sesama,  percayalah hidup kita akan terasa nyaman sampai Dia memanggil kita untuk kembali padaNya. Inget lho, Mas amalan itulah yang akan kita bawa menghadapNya.” Pesawat mendarat dengan sempurna lalu kami berpisah menuju takdir masing-masing.

Ya Allah, Engkaulah arakan awan yang menjatuhkan kesejukan. Akulah yang senantiasa menyimpan rintiknya, mengalirkan ke dalam anak-anak sungai jiwa yang tenang.

 

Sempurnakan kebaikan kita, sempurnakan hidup kita dengan menyempurnakan pendidikan anak-anak dhuafa melalui beasiswa pendidikan dengan transfer ke No Rekening : BCA 762.090.0081 a/n Yayasan Kalpati. Kebahagiaan mereka sesungguhnya adalah kebahagiaan kita.

No Kontak : +62 – 816-413-811, +62 – 811-130-339, donasi@ge-ser.org
Alamat : Komp. Cimone Mas Permai No. 14, Kota Tangerang, Banten
Akta Notaris No. 45, Tgl 29 Agustus 2014; NPWP : 66.229.616.9-402.000.
SK Menteri Hukum & HAM : Nomor AHU-05290.50.10.2014

Please follow and like us: