mung mampir ngombe

Pukul 21.30 WIB bagi saya itu sudah cukup larut untuk gentayangan di luar rumah. Tapi tidak, bagi seorang pemulung yang saya temui secara tidak sengaja di pojokan sebuah minimarket di dekat rumah. Justru dia sedang bergerak lincah membuka dan menutup beberapa tempat sampah yang malam itu lumayan penuh. Pasti banyak rejeki nih di sini, begitu barangkali pikirnya.

Lalu tanpa sengaja juga saya melihat gerobaknya dengan tulisan …

MENGHARAP RIZKI ILLAHI. CARI NAFKAH BIAR SUSAH SELALU TERSENYUM.

Membaca tulisan itu saya jadi teringat seorang sahabat baik. Masih tergolong muda dengan usia awal kepala empat, energik, cantik dan selalu termotivasi untuk hal terbaik.

“Mas, saya menjadi seperti sekarang ini adalah berkah hidup yang dititipkanNya kepada mendiang ibu.” Ujarnya saat berbagi energi positif di suatu hari.

“Lha, kok bisa begitu?”

“Mendiang ibu saya adalah seorang yang sangat ulet. Kami enam bersaudara dan semuanya bisa mengenyam pendidikan tinggi. Sepeninggal ayah kami,  beliau membuka warung sembako kecil-kecilan di pojok depan rumah kami. Dari situlah kami hidup dan tidak ada yang lainnya.”

“Lha, kok anak-anaknya semua bisa sekolah?”

“Berkah Tuhan, Mas. Kami pun ga paham mengapa keajaiban ini bisa terjadi. Setiap harus bayar sekolah, Ibu selalu punya uangnya. Entah dari mana. Pernah saya tanya Ibu, bagaimana kalo Ibu belum punya uang untuk sekolah kami. Ya tinggal minta saja sama Gusti Allah, Nduk. Pasti dikasih. Itu jawaban beliau.” Mesti ini ada rahasia hidup yang tersembunyi, gumam saya.

Subhanallah. Almarhumah mesti orang hebat. Seperti apa perilaku beliau, Vin?” Penasaran dengan cara hidupnya.

“Biasa aja seperti ibu-ibu yang lain. Kami sering dimarahi jika salah. Tapi juga sering diberi hadiah jika ada kebaikan yang kami lakukan, walaupun hanya sekedar sepotong tempe goreng yang diberikan lebih dibandingkan anak lainnya. Maklum kami hidup sangat sederhana. Itu saja sudah membuat kami sangat senang.” Terpancar aura gembira dari mukanya yang selalu ceria.

“Tapi memang beliau mengajari kami cara hidup yang tidak biasa, Mas. Bagi Ibu, tidak ada itu yang namanya masalah dalam hidup. Penciptaan kita di dunia ini kan pasti tidak berdiri sendiri. Keberadaan kita pasti disempurnakan dengan segala macam “perlengkapan” supaya kita bisa hidup. Jadi, “masalah” itu juga kan mesti sebagian dari perlengkapan yang disiapkan untuk kita. Lalu, mengapa kita mesti bingung, galau, stress jika kedatangan “masalah” yang memang pasti akan selalu bertamu ke rumah kita. Mbok ya kembalikan saja kepada Yang Menciptakan, mintakan jalan keluarnya. Kira-kira begitu bahasa mendiang, Mas.” Tercenung saya.

Lakoni hidup seperti  air yang mengalir dengan tenang karena pasti airnya akan bening. Dengan cara itu kita bisa dengan mudah melihat keindahan hidup, sama halnya seperti kita melihat indahnya dasar sungai atau laut. Jangan bikin keruh airnya dengan perkataan, sikap dan  perbuatan yang tidak baik. Karena setiap huruf yang kita ucapkan, setiap langkah yang kita lakukan bahkan setiap niat yang terbersit pasti berakibat kepada hidup kita. Begitu ujarnya.” Iya juga ya. Jadi inget kampret dan kecebong..

Beliau sangat memuliakan orang lain, Mas.  Segala diadain kalau ada tamu. Pasti datang jika ada undangan dari siapapun. Pasti ngasih jika ketemu orang yang datang meminta. Pasti menjenguk orang yang kemalangan.” Jadi malu saat melihat diri sendiri.

Ga usah kuatir dengan rejekimu. Wong sudah dijamin kok. Toh hidup kita ini kan cuma sebentar, Nduk. Mung mampir ngombe … ! Semua yang ada pada kita itu juga kan cuma Hak Guna Pakai, bukan Hak Milik. Sederhanakan saja pikiran kita dengan membahagiakan orang lain. Berikan yang terbaik jika ada. Jika tidak, bukankah senyuman saja itu bisa mendinginkan api kemarahan yang membara.”

Iya sih gumam saya. Apalagi senyum lesung pipitmu itu lho. Sayangnya, masih lebih renyah singkong goreng yang buru-buru saya habiskan karena adzan maghrib sudah memanggil.

Keikhlasan bermula dari kesediaan untuk melepaskan apa yang sesungguhnya bukan milik kita, tanpa kata “tapi” dan “mengapa”