REJEKI ada di hatimu

REJEKIMU ADA DI HATIMU

Sore kemarin saat pulang kerja ponsel berdering. Tertulis nama seorang teman yang sedang gegana (gelisah-galau-merana) karena warung makannya mulai sepi gegara Tol Lampung mulai beroperasi dan sebagian besar kendaraan tidak lagi mampir ke warungnya yang sudah kondang. Suaranya yang biasanya renyah kini sedikit lesu karena harus berfikir untuk bagaimana bisa tetap menjalankan usahanya.

“Bukan cuma aku aja lho, Mas, yang ngalamin sepi dagangan. Banyak temen-temen lain yang senasib bahkan harus mengurangi jumlah karyawannya. Aku ga tega kalau harus merumahkan mereka, karena mereka semua adalah bagian dari keluarga besarku. Aku maunya susah senang kita bersama-sama.” Kesimpulan masalahnya setelah basa basi.

“Kita? Lho aja keleesss…” Goda saya sambil ngikik.

“Iiih.. kamu mah. Aku serius nih, Mas. Aku harus gimana ini ke depannya?” Kadang masih terngiang suara khasnya yang dulu pernah ada.

“Gampaaangg…. Aku kasih tahu, tapi kamu harus yakin untuk menjalankannya. Kalo ga yakin, ya persoalanmu pasti tetep ada.”

“Ok, sapa takut.” Balasnya  optimis.

“Yang pertama, kita bahas dulu konsep rejeki. Dulu, kita pernah bekerja di perusahaan yang sama, walopun ga jadi hidup di rumah yang sama. Aku dapat gaji, kamu dapat gaji juga setiap bulan. Sebetulnya gaji kita berasal dari mana? Dari perusahaan? Dari bos atau dari Allah?”

“Ya elaahh….. anak TK juga tahu, Mas. Ya dari Allah lah..” Sewotnya ga pernah berubah. Saya Cuma nyengir di balik HP saya.

“Lalu, ketika kita sama-sama keluar dari perusahaan itu dan meneruskan lakon hidup kita masing-masing, masih tetep dapat rejeki kan? Kamu dapat rejeki bahkan melimpah dan lebih bagus dibandingkan saat bekerja dulu, melalui warung makan mu ini. Apakah rejeki mu itu berasal dari tamu-tamu kamu atau dari Allah?”

“Iya juga ya, Mas. Tetep dari Allah. Tapi gimana sekarang ini kan kenyataannya sepi?” Sempat tak terdengar jawaban dia beberapa jenak sebelum ucapannya itu.

“Masalahnya itu bukan ada di jalan tol, bukan di kendaraan, bukan di tamu dan bukan di letak warungmu berada. Persoalan terbesarnya ada di hati mu, yang percaya dengan Allah tapi ga yakin bahwa Allah selalu memberikan rezeki-Nya kepada kita. Cobalah kita belajar memiliki keyakinan kepada Sang Pemberi Rejeki seperti bayi yang betul-betul menyerahkan hidupnya kepada Sang Khalik.

“Maksute piye, Mas?

“Bayi itu adalah makhluk lemah yang tidak memiliki daya upaya apapun. Tapi mengapa bayi selalu mendapatkan apapun yang dia butuhkan hanya cukup dengan menangis atau merengek? Mengapa semua orang akan memberikan perhatian penuh kepadanya? Mengapa setiap orang menyukai bayi?”

“Ya karena bayi makhluk yang masih suci, polos, bersih, wangi dan menyenangkan.” Andai berhadapan, pasti terlihat kerut di keningnya tanda dia berfikir.

“Itulah kunci untuk mendapatkan rejeki. Hati sang bayi masih bersih, masih suci, belum terkontaminasi dengan syirik-syirik sekecil apapun. Makanya Allah mencukupkan kebutuhannya, Allah menjaga dari segala apapun yang membahayakan. Bahkan seringkali hanya bayi yang bisa selamat dari musibah dan bencana. Paham, Son?” Ledek saya.

“Belum..” Jawaban spontannya membuat saya terkikik.

“Hayuk kita belajar yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah lah Sang Maha Pemilik Rejeki. Rejeki ada di manapun, kapanpun dan siapapun boleh mengambilnya. Yakin seperti bayi, supaya hati kita bisa bersih, suci. Yaaahh.. walopun tidak mungkin bersih-bersih amat. Kalo itu sudah bisa kita jalankan, rejeki bakal ga tertahan datangnya bertubi-tubi. Yakin aja.”

“Gitu ya, Mas? Terus mesti ngapain lagi?”

“Ya, itu aja dulu kamu lakukan. Entar juga pasti bakal muncul seribu satu pintu pembuka rejekimu. Salah satunya, kamu kan tadi kepikiran untuk jualan makanan onlen. Cobain aja dulu, sambal membersihkan hatimu.”

“Siap 69, Ndan…..”

 

#rejekimuadadihatimu

#www.ge-ser.org

Please follow and like us: